MEMBANGUN BUDAYA ORGANISASI YANG ISLAMI

Assalamualaikum Wr. Wb. Selamat pagi, Salam sejahtera untuk kita semua
Apa kabar ? Semoga dalam keadaan baik baik saja dan selalu dalam lindungan-Nya.
Well, di tulisan kali ini, saya akan sedikit memaparkan tentang " MEMBANGUN BUDAYA ORGANISASI YANG ISLAMI"

A. Pengertian Budaya Organisasi Islami
Pada dasarnya setiap orang tidak bisa hidup sendiri. Sebagian besar tujuannya
dapat terpenuhi apabila ada interaksi sosial dengan orang lain. Karena itulah biasanya
manusia akan berkumpul untuk membentuk suatu kelompok yang disebut dengan
Organisasi. Organisasi merupakan sebuah wadah atau tempat bagi sekelompok orang yang
melakukan sesuatu proses secara bersama-sama, dengan landasan yang sama, tujuan yang sama, dan juga dengan cara-cara yang sama.
Budaya Organisasi, adalah sebuah sistem makna, nilai-nilai dan kepercayaan
yang dianut bersama dalam suatu organisasi yang menjadi rujukan untuk bertindak
dan membedakan organisasi yang satu dengan organisasi yang lain (Mas’ud 2004)
Dari paparan pengertian di atas dapat diartikan budaya organisasi islami adalah
suatu sistem makna, nilai-nilai dan kepercayaan yang berdasarkan pada nilai islami
yang dianut bersama dalam suatu organisasi yang menjadi rujukan untuk bertindak
serta membedakan dengan organisasi yang lain.

B. Konsep Organisasi Secara Islami
“ Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia
diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.
Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal”
( Q.S Al-Hujurat : 13 )
Dari ayat di atas sangat jelas bahwa Allah menciptakan manusia terdiri dari
laki-laki dan perempuan. Setiap dari manusia pasti memiliki kebutuhan yang tidak
bisa terpenuhi oleh diri mereka sendiri. Oleh karena itu, kita diperintah untuk
melakukan interaksi dengan orang lain dan alam sekitarnya. Kegiatan interaksi timbal
balik antar manusia dan dengan lingkungannya inilah yang merupakan peristiwa
sosial yang berujung pada pengayaan budaya. Interaksi yang ada tidak langsung terbentuk, akan tetapi membutuhkan suatu
wadah yang memfasilitasi kegiatan itu, sehingga setiap individu bisa saling mengenal
dan mempunyai gambaran kehidupan dengan tujuan yang sama dan direalisasikan
menjadi awal organisasi sebagai fasilitas amar ma’ruf nahi munkar serta pengenalan
individu-individu dan budaya yang dimiliki.

C. Karakter Budaya Organisasi Islami

1. Bekerja merupakan “ibadah”
Sebagai seorang muslim bekerja sama artinya dengan mengaktualisasikan
keberadaan hidayah Allah yang telah diberikan kepaada manusia. Aktivitas
bekerja yang dijalankan seorang pekerja muslim terikat dengan motivasi atau
keyakinan positif, hal tersebut semata-mata untuk mendapatkan ridho Allah
SWT, sehingga denga motivasi ridho tersebut maka prinsip kejujuran, amanah,
kebersamaan dijunjung tinggi. Ketika bekerja dalam menjalankannya
menggunaan prinsip-prinsip Islam maka aktivitas tersebut dianggap “ibadah”
yang berarti aada nilainya di sisi Allah SWT.

2. Bekerja dengan azaz manfaat dan maslahat
Seorang pekerja muslim dalam menjalankan proses produksinya tidak semata
mencari keuntungan maksimum untuk menumpuk asset kekayaan. Berproduksi
tidak semata-mata karena profit ekonomis yang diperolehnya, tetapi juga
seberapa penting manfaat keuntungan tersebut atau kemaslahatan masyarakat.
Sehingga pemilik dan manajer perusahaan islami juga menjadikan obyek utama
proses produksi sebagai “memperbesar sedekah”.

3. Bekerja dengan mengoptimalkan kemampuan akal
Seorang pekerja muslim harus menggunakan kemampuan akal fikirannya,
profesionalitas di dalam mengelola sumber daya. Oleh karena faktor produksi
yang digunakan sifatnya terbatas, manusia perllu mengoptimalkan kemampuan
yang telah allah berikan.

4. Bekerja penuh keyakinan dan optimistik
Seorang muslim yakin bahwa apapun yang diusahakannya sesuai dengan
ajaran islam tidak membuat hidupnya menjadi kesulitan. Sebagaimana firman
Allah dalam surat Al-Hijr : 19-20 : “Dan kami telah menghamparkan bumi dan
menjadikan padanya gunung-gunug dan kami tumbuhkan padanya segala sesuatu
menurut ukuran”. “Dan kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-
keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu
sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya”.

5. Bekerja dengan mensyaratkan adanya sikap tawazun ( keberimbangan)
Bekerja dalam islam juga mensyaratkan adanya sikap tawazun (keberimbangan) antara dua kepentingan umum dan kepentingan khusus
(Abdullah Abdul Husein,2004), keduanya tidak dapat dianalisa secara hirarkis
melainkan harus diingat sebagai satu kesatuan. Bekerja dapat menjadi haram jika
ektivitas yang dihasilkan ternyata hanya akan mendatangkan dampak
membahayakan masyarakat mengingat adanya pihak-pihak yang dirugikan dari
aktivitas tersebut.

6. Bekerja dengan memperhatikan unsur ke halalan dan menghindari hal-hal yang
haram
Seorang pekerja muslim menghindari praktek pekerjaan atau produksi yang
mengandung hal-hal yang haram antara lain keuangan mengandung riba,
kebijakan tenaga kerja yang tidak adil, dan pemasaran yang menipu.

organisasidikatakan organisasi
islami jika memiliki lima hal berikut :
1. ASAS
Asas dari sebuah organisasi islam adalah ajaran islam itu sendiri yang bersumber
pada Al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW. Setiap gerak langkah organisasi tidak
boleh bertentangan dengan nilai-nilai islam.

2. TUJUAN
Tujuan sebuah organisasi merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah
organisasi, oleh karena itu harus dirumuskan dengan jelas dikarenakan tujuan
merupakan arah yang akan dicapai oleh organisasi sekaligus untuk menghindari
terjadinya penyalahgunaan organisasi oleh orang-orang yang ingin mencari
keuntungan pribadi yang tidak sejalan dengan ajaran agama islam.
Tujuan organisasi yang baik adalah yang memiliki dimensi duniawi ukhrawi.
Setidak-tidaknya tidak bertentangan dengan islam.

3. VISI
Visi memberikan gambaran arah di masa depan. Oleh karena itu visi organisasi harus disusun dengan jelas, tepat, mudah dipahami dan dimengerti, aktual sekarang maupun yang akan datang dan realistis.

4. MISI
Adalah arah wujud yang ingin dicapai. Misi diperlukan untuk menjadikan visi
menjadi realita. Statement misi seharusnya pendek, jelas, dan lengkap.

5. NILAI – NILAI YANG JELAS
Guna menumbuhkan suasan aktivitas yang islami dalam sebuah organisasi, maka
perlu mengembangkan nilai-nilai islam dalam budaya organisasi, diantaranya
adalah :
a. Ibadah
Segala aktivitas yang diselenggarakan dalam organisasi harus dijiwai oleh
semangat untuk beribadah kepada Allah SWT dan mengharap keridhaan-Nya.
b. Profesional
Aktivitas organisasi dirancang secara cermat, diselenggarakan secara detail,
selesai dilaksanakan dengan tuntas dan berhasil tercapai tujuannya dengan
baik.
c. Kualitas
Aktivitas organisasi dilaksanakan untuk mencapai hasil dengan kualitas (mutu)
yang sebaik-baiknya sesuai dengan standard jaminan mutu yang telah
dinyatakan.
d. Prestasi
Seluruh komponen yang terdapat dalam organisasi, diharapkan mampu
berprestasi setinggi mungkin di bidangnya masing-masing.
e. Perbaikan
Semua elemen yang terdapat dalam organisasi berusaha melakukan perbaikan
jika terdapat sebuah kesalahan baik secara individu maupun kelompok demi
tercapainya program organisasi.

D. Nilai-nilai Budaya Organisasi Secara Islami
Nilai nilai yang terkandung dalam budaya organisasi secara islami adalah sebagai
berikut :
1. Keikhlasan
Keikhlasan disini berarti mengerjakan sesuatu dengan baik dan maksimal disertai
dengan niat yang bersih. Berapapun penghasilan yang didapatkan, seseorang yang
ikhlas akan tetap melakukan kewajibanya dengan maksimal.

2. Kebersamaan
Organisasi adalah teamwork antar setiap individu di dalamnya. Kebersamaan
dalam organisasi adalah hal yang sangat penting yang jika tidak ada akan
merepotkan pimpinan organisasi. Meskipun berhimpun tapi jika tidak ada nilai
kebersamaan maka sama saja dengan sendiri-sendiri. Dalam organisasi yang
islamivsatu sama lain akan saling peduli dan saling membantu meringankan beban
rekannya, yang pada hakikatnya sudah dianggap seperti saudara sendiri.

3. Pengorbanan
Setiap elemen dalam organisasi harus bersedia untuk berkorban demi mencapai
tujuan sebuah organisasi. Contohnya, dalam rangka mencapai target penjualan
sebanyak 1000 unit produk, seorang pimpinan juga harus memperhatikan kondisi
para bawahanya dan terus memmotivasi. Disaat target itu tercapai seorang
pimpinan harus memberikan reward kepada bawahan. Sebaliknya jika target
tersebut tidak tecapai maka seorang pemimpin harus bisa memberi motivasi agar
bisa lebih baik dikemudian hari.

Sekian penjelasan tentang "Konsep Etika Bisnis". Sampai jumpa di tulisan- tulisan berikutnya!

Comments